Sunday, August 31, 2014

11 Fakta Menarik Tentang Hujan


Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara tropis, ciri umum wilayah yang disebut tropis adalah memiliki curah hujan yang banyak. Dalam thread ini akan kita bahas tentang fenomena keunikan hujan dan fakta yang mungkin terlewatkan dari kita.

1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.
2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.
3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter.
4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.
5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.
6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.
7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505x1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”
8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.
9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kul_kas.
10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan petrichor.

11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”.
Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi..
source: http://www.acehonline.net/showthread.php?t=6276

Friday, August 29, 2014

CIRI CIRI PENYAKIT USUS BUNTU DAN CARA MENGOBATINYA

Ciri-ciri Penyakit Usus Buntu dan Cara Mengobatinya - Usus buntu termasuk salah satu penyakit yang umum bagi masyarakat kita, penyakit ini juga termasuk salah satu penyakit yang berbahaya. jangankan usus buntu, orang yang sedang terserang flu saja banyak yang mengeluh, apalagi yang terserang penyakit ganas, betapa sakit dan khawatirnya mereka terhadap diri mereka sendiri. Kalau ditanya siapa yang mau sakit? Pasti tidak ada yang menjawab. Ya, semua orang menginginkan sehat, dan jika Anda semua ingin tetap terjaga sehat tubuhnya, maka aturlah pola makan anda, pola hidup anda, gaya hidup anda, jangan lupa beristirahat. Artikel ini akan membahas salah satu penyakit, yaitu usus buntu. berikut penjelasannya.
Penyakit usus buntu terjadi karena adanya peradangan pada usus buntu dimana usus kecil yang membentuk jari melekat pada usus besar disebelah kanan rongga perut. Penyakit radang usus buntu ini umumnya  disebabkan oleh infeksi bakteri namun faktor pencetusnya beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum diketahui secara pasti.

Ciri-ciri Usus Buntu

  1. Demam dan menggigil
    Ini dapat di identifikasi jika deman lebih dari 39 derajat celcius disertai sakit pada bagian perut yang parah sehingga membuat seseorang menjadi sulit berdiri, kemungkinan besar gejala ini merupakan salahsatu gejala usus buntu.
  2. Nyeri pada pusar
    Pada umumnya sakit yang dirasakan oleh seorang yang menderita usus buntu adalah penderita akan merasakan sakit pada daerah sisi kanan bagain bawah perut. Namun pada pertamanya rasa tidak nyaman ada didekat pusar dan baru kemudian rasa sakit tersebut akan berpindah pada bagian kanan bawah. Namun rasa sakit ini jika dirasakan oleh anak ataupun ibu hamil seperti terasa pada berbagai bagian perut, dan setelah itu rasa sakit ini akan semakin memburuk ketika seseorang akan memindahkan kaki, bersin, tersentak, ataupun batuk.
  3. Rasa sakit yang semakin memburuk 
  4. Hilangnya nafsu makan, merasa mual, dan juga muntah
    Ketika seseorang menderita penyakit ini biasanya nafsu makan akan semakin rendah dalam beberapa hari dan dibarengi dengan mual dan juga muntah ringan. Namun jika dalam 2-3 hari gejala berkurangnya nafsu makan sudah membaik maka kemungkinan besar bukanlah usus buntu. Namun jika gejalanya semakin memburuk dan disertai rasa sakit pada bagian perut kanan bawah segera bawa kedokter untuk dilakukan tindakan selanjutnya.
  5. Semebelit atau diare
    Setelah seseorang terkena sakit perut umumnya akan merasakan sembelit atau diare, Jika ternyata diare diare disertai dengan banyak lendir, dan juga rasa sakit pada bagian perut kanan bawah maka segeralah periksakan kesehatan Anda ke dokter.
  6. Perut kembung dan sulit buang gas
    Gejala lainnya yang mungkin saja terjadi pada penderita usus buntu adalah perut merasa kembung dan terasa penuh dengan gas namun engalami kesulitan ketika akan membuang gas, disertai nyeri usus. Hal ini perlu diwaspadai sebagai salahsatu gejala yang timbul dari penyakit ini.
  7. Rasa sakit jika pada bagian kanan bawah perut setelah ditekan
    Menurut dokter Payne ketika penderita menekan pada bagian bawah perut dan kemudian merasakan sakit saat melepaskan tekanan, sebaiknya langsung saja memerikasakan diri ke dokter karena ini mengindikasikan adanya gejala radang usus buntu. Terlebih jika gejala seperti ini disertai dengan banyak gejala lainnya.

Penyebab Usus Buntu

  • Adanya penumpukan fases atau tinja dalam usus
  • Kurang asupan serat pada lambung
  • Usus terinfeksi virus atau bakteri
  • Adanya penyumbatan pada usus
  • Adanya pembesaran pada jaringan limfoid

Dampak Akibat Usus Buntu Pecah

  • Masuknya kuman usus ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang bisa berakibat fatal.
  • Terbentuknya abses.
  • Pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan.
  • Masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa berakibat fatal.

Cara Mengobati Usus Buntu Secara Tradisional

  1. Delima
    Bahan-Bahan : 15 gram kulit delima kering, 30 gram daun jambu segar, 500 cc air.
    Cara Pemakaian : 15 gram kulit delima kering ditambah 30 gram daun jambu segar direbus dengan 500 cc air, tunggu hingga mendidih dan air hanya tersisa 200 cc, kemudian airnya disaring lalu diminum 3 kali sehari.
  2. Ajeran
    Bahan-Bahan : 5 gram herba ajeran, 120 mL air.
    Cara Pemakaian : Semua bahan dibuat menjadi infus atau pil, lalu diminum 2 kali sehari pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml, atau 3 kali sehari, masing-masing 3 pil, ulangi selama 20 hari.

Thursday, August 28, 2014

2 Tips Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog


2 Cara/ Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog.

Hmmmm, setelah mem-posting sebuah artikel
CARA MEMASANG ICON/ WIDGET RECENT POSTS NAIK TURUN DENGAN MUDAH DAN KEREN,
Kini ku mau share mengenai tips dan trik mengatasi error ketika me-replay suatu komentar, saya posting ini karena sudah pernah merasakannya, sob. heee rasanya sebel banget.
Selamat pagi sob, pasti sobat lagi mencari solusi Mengatasi error replay komentar, yakan?
Sebel rasanya ketika me-replay suatu komentar dan tombol replay-nya error.
mysite setelah mengalami hal tersebut dan mendapat solusinya ingin rasanya shere kepada sobat semua
ada 2 Cara/Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog, sob 
kalau cara yang pertama tidak mempan cara kedua pasti mempan.
Silahkan sobat perhatikan dengan baik

Cara/trik yang pertama:
1. Masuk ke Dasbor ---> Rancangan ---> Edit HTML
2. Menjaga kegagalan, backup dulu template anda ---> Download Template Lengkap
3. Centang Expand Template Widget
4. Cari kode dibawah ini : 

<b:includable id=threaded_comment_js var=post>
  <script defer=defer expr:src=data:post.commentSrc type=text/javascript/>

  <script type=text/javascript>
    (function() {
      var items = <data:post.commentJso/>;
      var msgs = <data:post.commentMsgs/>;
      var postId = &#39;<data:post.id/>&#39;;
      var feed = &#39;<data:post.commentFeed/>&#39;;
      var authorName = &#39;<data:post.author/>&#39;;
      var authorUrl = &#39;<data:post.authorUrl/>&#39;;
      var blogId = &#39;<data:top.id/>&#39;;
      var baseUri = &#39;<data:post.commentBase/>&#39;;

// <![CDATA[
      feed += ?alt=json&v=2&orderby=published&reverse=false&max-results=50;
      var cursor = null;
      if (items && items.length > 0) {
        cursor = parseInt(items[items.length - 1].timestamp) + 1;
      }

      var bodyFromEntry = function(entry) {
        if (entry.gd$extendedProperty) {
          for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
            if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.contentRemoved) {
              return <span class="deleted-comment"> + entry.content.$t + </span>;
            }
          }
        }
        return entry.content.$t;
      }

      var parse = function(data) {
        cursor = null;
        var comments = [];
        if (data && data.feed && data.feed.entry) {
          for (var i = 0, entry; entry = data.feed.entry[i]; i++) {
            var comment = {};
            // comment ID, parsed out of the original id format
            var id = /blog-(d+).post-(d+)/.exec(entry.id.$t);
            comment.id = id ? id[2] : null;
            comment.body = bodyFromEntry(entry);
            comment.timestamp = Date.parse(entry.published.$t) + ;
            if (entry.author && entry.author.constructor === Array) {
              var auth = entry.author[0];
              if (auth) {
                comment.author = {
                  name: (auth.name ? auth.name.$t : undefined),
                  profileUrl: (auth.uri ? auth.uri.$t : undefined),
                  avatarUrl: (auth.gd$image ? auth.gd$image.src : undefined)
                };
              }
            }
            if (entry.link) {
              if (entry.link[2]) {
                comment.link = comment.permalink = entry.link[2].href;
              }
              if (entry.link[3]) {
                var pid = /.*comments/default/(d+)?.*/.exec(entry.link[3].href);
                if (pid && pid[1]) {
                  comment.parentId = pid[1];
                }
              }
            }
            comment.deleteclass = item-control blog-admin;
            if (entry.gd$extendedProperty) {
              for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
                console.log(entry.gd$extendedProperty[k].name + - + entry.gd$extendedProperty[k].value);
                if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.itemClass) {
                  comment.deleteclass += + entry.gd$extendedProperty[k].value;
                }
              }
            }
            comments.push(comment);
          }
        }
        return comments;
      };

      var paginator = function(callback) {
        if (hasMore()) {
          var url = feed;
          if (cursor) {
            url += &published-min= + new Date(cursor).toISOString();
          }
          window.bloggercomments = function(data) {
            var parsed = parse(data);
            cursor = parsed.length < 50 ? null
                : parseInt(parsed[parsed.length - 1].timestamp) + 1
            callback(parsed);
            window.bloggercomments = null;
          }
          url += &callback=bloggercomments;
          var script = document.createElement(script);
          script.type = text/javascript;
          script.src = url;
          document.getElementsByTagName(head)[0].appendChild(script);
        }
      };
      var hasMore = function() {
        return !!cursor;
      };
      var getMeta = function(key, comment) {
        if (iswriter == key) {
          var matches = !!comment.author
              && comment.author.name == authorName
              && comment.author.profileUrl == authorUrl;
          return matches ? true : ;
        } else if (deletelink == key) {
          return baseUri + /delete-comment.g?blogID= + blogId + &postID= + comment.id;
        } else if (deleteclass == key) {
          return comment.deleteclass;
        }
        return ;
      };

      var replybox = null;
      var replyUrlParts = null;
      var replyParent = undefined;

      var onReply = function(commentId, domId) {
        if (replybox == null) {
          // lazily cache replybox, and adjust to suit this style:
          replybox = document.getElementById(comment-editor);
          if (replybox != null) {
            replybox.height = 250px;
            replybox.style.display = block;
            replyUrlParts = replybox.src.split(#);
          }
        }
        if (replybox && (commentId !== replyParent)) {
          document.getElementById(domId).insertBefore(replybox, null);
          replybox.src = replyUrlParts[0]
              + (commentId ? &parentID= + commentId : )
              + # + replyUrlParts[1];
          replyParent = commentId;
        }
      };

      var tok = comment-form_;
      var hash = window.location.hash || ;
      var startThread = hash.indexOf(tok) == 1 ? hash.substring(tok.length + 1) : undefined;

      // Configure commenting API:
      var configJso = {
        maxDepth: 2
      };
      var provider = {
        id: postId,
        data: items,
        loadNext: paginator,
        hasMore: hasMore,
        getMeta: getMeta,
        onReply: onReply,
        rendered: true,
        initReplyThread: startThread,
        config: configJso,
        messages: msgs
      };

      var render = function() {
        if (window.goog && window.goog.comments) {
          var holder = document.getElementById(comment-holder);
          window.goog.comments.render(holder, provider);
        }
      };

      // render now, or queue to render when library loads:
      if (window.goog && window.goog.comments) {
        render();
      } else {
        window.goog = window.goog || {};
        window.goog.comments = window.goog.comments || {};
        window.goog.comments.loadQueue = window.goog.comments.loadQueue || [];
        window.goog.comments.loadQueue.push(render);
      }
    })();
// ]]>
  </script>
</b:includable>
5. Ganti semuanya dengan kode dibawah ini :

<b:includable id=threaded_comment_js var=post>
  <script async=async expr:src=data:post.commentSrc type=text/javascript/>

  <script type=text/javascript>
    (function() {
      var items = <data:post.commentJso/>;
      var msgs = <data:post.commentMsgs/>;
      var config = <data:post.commentConfig/>;

// <![CDATA[
      var cursor = null;
      if (items && items.length > 0) {
        cursor = parseInt(items[items.length - 1].timestamp) + 1;
      }

      var bodyFromEntry = function(entry) {
        if (entry.gd$extendedProperty) {
          for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
            if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.contentRemoved) {
              return <span class="deleted-comment"> + entry.content.$t + </span>;
            }
          }
        }
        return entry.content.$t;
      }

      var parse = function(data) {
        cursor = null;
        var comments = [];
        if (data && data.feed && data.feed.entry) {
          for (var i = 0, entry; entry = data.feed.entry[i]; i++) {
            var comment = {};
            // comment ID, parsed out of the original id format
            var id = /blog-(d+).post-(d+)/.exec(entry.id.$t);
            comment.id = id ? id[2] : null;
            comment.body = bodyFromEntry(entry);
            comment.timestamp = Date.parse(entry.published.$t) + ;
            if (entry.author && entry.author.constructor === Array) {
              var auth = entry.author[0];
              if (auth) {
                comment.author = {
                  name: (auth.name ? auth.name.$t : undefined),
                  profileUrl: (auth.uri ? auth.uri.$t : undefined),
                  avatarUrl: (auth.gd$image ? auth.gd$image.src : undefined)
                };
              }
            }
            if (entry.link) {
              if (entry.link[2]) {
                comment.link = comment.permalink = entry.link[2].href;
              }
              if (entry.link[3]) {
                var pid = /.*comments/default/(d+)?.*/.exec(entry.link[3].href);
                if (pid && pid[1]) {
                  comment.parentId = pid[1];
                }
              }
            }
            comment.deleteclass = item-control blog-admin;
            if (entry.gd$extendedProperty) {
              for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
                if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.itemClass) {
                  comment.deleteclass += + entry.gd$extendedProperty[k].value;
                }
              }
            }
            comments.push(comment);
          }
        }
        return comments;
      };

      var paginator = function(callback) {
        if (hasMore()) {
          var url = config.feed + ?alt=json&v=2&orderby=published&reverse=false&max-results=50;
          if (cursor) {
            url += &published-min= + new Date(cursor).toISOString();
          }
          window.bloggercomments = function(data) {
            var parsed = parse(data);
            cursor = parsed.length < 50 ? null
                : parseInt(parsed[parsed.length - 1].timestamp) + 1
            callback(parsed);
            window.bloggercomments = null;
          }
          url += &callback=bloggercomments;
          var script = document.createElement(script);
          script.type = text/javascript;
          script.src = url;
          document.getElementsByTagName(head)[0].appendChild(script);
        }
      };
      var hasMore = function() {
        return !!cursor;
      };
      var getMeta = function(key, comment) {
        if (iswriter == key) {
          var matches = !!comment.author
              && comment.author.name == config.authorName
              && comment.author.profileUrl == config.authorUrl;
          return matches ? true : ;
        } else if (deletelink == key) {
          return config.baseUri + /delete-comment.g?blogID=
               + config.blogId + &postID= + comment.id;
        } else if (deleteclass == key) {
          return comment.deleteclass;
        }
        return ;
      };

      var replybox = null;
      var replyUrlParts = null;
      var replyParent = undefined;

      var onReply = function(commentId, domId) {
        if (replybox == null) {
          // lazily cache replybox, and adjust to suit this style:
          replybox = document.getElementById(comment-editor);
          if (replybox != null) {
            replybox.height = 250px;
            replybox.style.display = block;
            replyUrlParts = replybox.src.split(#);
          }
        }
        if (replybox && (commentId !== replyParent)) {
          document.getElementById(domId).insertBefore(replybox, null);
          replybox.src = replyUrlParts[0]
              + (commentId ? &parentID= + commentId : )
              + # + replyUrlParts[1];
          replyParent = commentId;
        }
      };

      var hash = (window.location.hash || #).substring(1);
      var startThread, targetComment;
      if (/^comment-form_/.test(hash)) {
        startThread = hash.substring(comment-form_.length);
      } else if (/^c[0-9]+$/.test(hash)) {
        targetComment = hash.substring(1);
      }

      // Configure commenting API:
      var configJso = {
        maxDepth: config.maxThreadDepth
      };
      var provider = {
        id: config.postId,
        data: items,
        loadNext: paginator,
        hasMore: hasMore,
        getMeta: getMeta,
        onReply: onReply,
        rendered: true,
        initComment: targetComment,
        initReplyThread: startThread,
        config: configJso,
        messages: msgs
      };

      var render = function() {
        if (window.goog && window.goog.comments) {
          var holder = document.getElementById(comment-holder);
          window.goog.comments.render(holder, provider);
        }
      };

      // render now, or queue to render when library loads:
      if (window.goog && window.goog.comments) {
        render();
      } else {
        window.goog = window.goog || {};
        window.goog.comments = window.goog.comments || {};
        window.goog.comments.loadQueue = window.goog.comments.loadQueue || [];
        window.goog.comments.loadQueue.push(render);
      }
    })();
// ]]>
  </script>
</b:includable>
6. Save Template 

Bila Belum Mempan cara/trik yang pertama silahkan sobat coba cara/ trik yang ke dua dibawah ini :

1. Login ke Akun Blogger sobat.
2. Pilih menu Template.
3. Klik Edit HTML.
4. Centang Expand Template Widget.
5. Cari kode seperti ini <b:include data=post name=post/> dan kalau tidak salah bentuk keseluruhannya seperti kode dibawah ini :

<b:include data=post name=post/>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
 <b:if cond=data:post.allowComments>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>

ATAU SEPERTI INI

<b:include data=post name=post/>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;>
   <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
   <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>

6. Silahkan sobat ganti deretan warna biru dengan kode dibawah ini :

<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;>
 <b:if cond=data:post.showThreadedComments>
  <b:include data=post name=threaded_comments/>
 <b:else/>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
 <b:if cond=data:post.showThreadedComments>
  <b:include data=post name=threaded_comments/>
 <b:else/>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>

7. Save atau Simpan template sobat.

Terimakasih kunjungannya sob dan semoga berhasil.

Wednesday, August 27, 2014

Cara Mendapatkan Penghasilan 22 Juta Per Bulan Hanya dari BLOG

Cara mendapatkan penghasilan 22 Juta per bulan ternyata tidak se sulit yang aku bayangkan. Apalagi penghasilan perbulan ini Murni dari Nge blog aja. Inspirasinya dari si Darren Rowse, pemilik Problogger, blog yang membukukan penghasilan minimum $30,000 USD per tahun atau kalau di rupiahkan menjadi sekitar 22 Juta per Bulan.Tentu saja itu bukan perkerjaan semudah membalik telapak tangan tetapi ternyata penghasilan segitu hanya di dapat dari blog dengan traffic sekitar 10.000 an per hari saja. Bagaimana cara membuat blog menhasilkan 22 juta per bulan? Darren Rowse mengungkapkan dalam postingannya langkah-langkah kongkritnya yaitu:

1. Jangan meninggalkan Pekerjaan mu dulu
Karena blogging merupakan pekerjaan dengan proses yang lama, maka siang hari kita tetap bisa bekerja dan malam harinya baru melakukan otimasi pendapatan blog, dan itu harus dilakukan rutin dan fokus terutama melakukan posting harian dan SEO (meningkatkan traffic).


2.Harus Spesifik
Katakanlah menjadi FULL time Blogger adalah tujuanmu, yaitu cukup dengan ngeblog aja gak kerja yang lain kita bisa dapat 22 Juta per Bulan, MAKA menurut Darren Rowse kita harus punya figur blogger yang benar2 sudah mendapatkan penghasilan segitu, kalau aku sih ya si Problogger ini, dan kita harus selalui berkomunikasi dengan figur orang yang ingin kita samai itu. Selanjutnya kita harus spesufik targetnya berapa Per Bulan??? Harus realistis, Kalau aku sih Baru ingin mencapai 10 Juta per Bulan dulu.

3.Pecahkan targetmu menjadi lebih mudah tercapai
22 Juta perbulan masih terdengan fantastis dan mustahil...OKE kita pecah aja dalam DOLLAR :
* $30,000 a year = $576.92 per week
* $30,000 a year = $82.19 a day
* $30,000 a year = $3.42 an hour

Kelihatannya lebih mudah kan mendaptakan penghasilan hanya 82 Dollar per hari MMM gimana ya..?

4. Apa yang di butuhkan untuk mencapai pendapatan 82 Dollar per hari atau 22 Juta Rupiah per bulan itu ?

# CPC Ads – Katakanlah pendapatan tertinggi kita dari adsense dan rata-rata per klik cuma 5 cents. Membutuhkan 1643 clicks on AdSense ads (note: AdSense also runs CPM ads so it’s not quite as simple as saying you need 1643 clicks… but to keep this simple lets just go with that).

# CPM Ads – Katakanlah pendapatannya $2 CPM per ad unit dan kita punya 3 ads pada masing-masing halaman (which is effectively $6 CPM per page). This would mean we’d need 13,000 page impressions.

# Sponsor Bulanan – one way to sell ads directly to advertisers is to sell ads on a month by month basis as a sponsorship. To make $30k in a year you need to sell $2500 a month in ads. You might have 6 ad spots on your blog so this is 6 advertisers at $416.66 per advertiser per month.

# Low Commission Affiliate Products – Lets say we were promoting affiliate products from a site like Amazon and your commissions were on average about 40 cents per sale. To earn $82.19 you’d need to sell 205 products.

# High Commission Affiliate Products – In this case you might be promoting ebooks and earning $8 a copy (that’s what you’d earn selling my 31DBBB ebook per commission). The math is simple on this one – you’d had to sell around 10 e-books a day.

# Really Big Commission Affiliate Products – of course e-books are not the biggest product out there to promote – there are products like training courses where you can earn hundreds per sale. Lets take one that might pay out $300 for a yearly membership on a bigger product. In this case you need to sell 8 of these per month.

# Selling Your Own E-book – got your own product, perhaps an e-book, to sell from your blog? At $19.95 a sale you need to sell just over 4 of these a day. You can do the sums on cheaper or more expensive product

GILA AJA KALAU Memikirkan cara mendapat 1643 klik per hari, mangkanya kita harus membagi pendapatan kita dalam TARGET yang lebih spesifik yaitu

* AdSense: $35
* Chitika: $20
* Private Ad Sales: $20
* Amazon: $15
* Other Affiliate Commissions: $10

Berarti jelas kan asal kita rajin posting aja maka traffic tinggi dan adsense gedhe trus juga dari affiliate.
Mengutip juga kata master adsense indonesia bung Isnaini, kuncinya pada posting, banyakin konten yang berkualitas dan rutin, bikin tulisan yang berguna buat pembaca.. sehari sekali WAJIB..

Oke deh semoga tahun ini bisa tercapai..Good Luck
http://ranepower.blogspot.com/2010/06/cara-mendaptakan-penghasilan-22-juta.html

Tuesday, August 26, 2014

How to care for your hair to grow and lush

How to care for your hair to grow and lush-hair is a crown, hair is so valuable for us, therefore, take care of your hair to keep it thriving and not quickly graying, here I will share tips on how to care for your hair to continue to grow and become fertile with drug natural, ie with Aloe Vera leaves.

If we want to grow hair with lush, then how to treat it is as follows;
-The first time we take aloe leaf that looks like a keris scalloped edges. it leaves thick and slimy. aloe slime is what we use nourish hair growth.

How to do it:
Aloe vera leaves us peel the green skin, mucous which we take off and do it on the base of the head where hair growth. After that we head wrap with a towel, continue to bring sleep. After getting out of bed in the morning we head keramasi to clean.


Note:
Do it this way to be successful,


Tuesday, August 19, 2014

Awan Air Terbesar di Jagat Raya Telah Ditemukan

Awan Air Terbesar di Jagat Raya Telah Ditemukan-Para ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan massa air raksasa terbesar dan tertua di jagad raya.
Massa air berbentuk awan itu, berusia 12 miliar tahun dan diperkirakan mengandung massa air  yang besarnya 140 triliun kali lipat dari seluruh massa air yang ada di bumi.
Awan uap air itu dikelilingi oleh sebuah lubang hitam supermasif yang dikenal dengan quasar, berada di lokasi yang berjarak sekitar 12 miliar tahun cahaya dari Bumi.
Seperti dikutip stasiun berita MSNBC, para ilmuwan mengatakan bahwa temuan ini membuktikan bahwa air telah ada sejak awal keberadaan jagad raya
"Karena cahaya yang kita lihat meninggalkan kuasar itu lebih dari 12 tahun cahaya, kita melihat kehadiran air hanya sekitar 1,6 milar setelah awal dari jagad raya," ujar Alberto Bolatto, salah seorang peneliti dari University of Maryland lewat sebuah pernyataan.

"Penemuan ini menandai keberadaan air semiliar tahun lebih dekat dengan peristiwa dentuman besar," kata Bolatto.
Quasar adalah obyek bercahaya dan paling energetik di alam raya. Kuasar ditenagai oleh lubang hitam besar yang menghisap gas-gas dan debu di sekitarnya lalu memuntahkan energi dalam jumlah ebsar.
Para tim astronom berhasil mendeteksi dan mengkonfirmasi keberadaan awan air itu di sekeliling quasar, melalui dua teleskop berbeda, satu di Hawaii dan satu lagi di California.
Peneliti memperkirakan, bahwa uap air itu terbentuk di awal kemunculan alam raya. Jadi, penemuan awan tua ini tida terlalu mengagetkan mereka. "Ini adalah bukti selanjutnya di mana air  meresap ke seluruh alam semesta, bahkan di saat-saat yang sangat awal," ujar pemimpin penulis riset, Matt Bradford, dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.

Berwujud Es
Quasar APM 08279+5255  mengandung uap air yang besarnya 4.000 kali lebih besar daripada galaksi Bima Sakti, kata para peneliti. Hal ini mungkin dikarenakan banyak air di galaksi Bima Sakti yang berwujud es, bukan uap.
Uap air di quasar didistribusikan ke sekitar lubang hitam masif di wilayah yang panjangnya mencakup ratusan tahun cahaya. Awan tersebut memiliki suhu minus 63 derajat Fahrenheit (-17,2 derajat celsius), namun, atmosfer bumi memiliki kepadatan yang 300 triliun kali lebih padat daripada awan tersebut.
Setidaknya, awan itu lima kali lebih panas, dan 10 sampai 100 kali lebih padat daripada apa yang biasa dijumpai di galaksi-galaksi, termasuk Bima Sakti, kata para peneliti. Awan air itu juga mengungkap info penting lain tentang quasar.
Pengukuran uap air dan molekul-molekul lain seperti karbon monoksida, mengungkap kemungkinan bahwa terdapat jumlah gas yang cukup bagi lubang hitam untuk berkembang hingga sekitar enam kali dari ukuran sebelumnya. Temuan ini akan segera dipublikasikan pada Astrophysical Journal Letters.

Baca juga:
  • Foto Planet Aneh di Jagat Raya
  • Olimpus Mons, Gunung Tertinggi Di Jagat Raya
Sumber: vivanews.com

Saturday, August 16, 2014

Tipe Wanita Berdasarkan Teknologi

Baru-baru ini World Computer Scientist Journal mengadakan survey secara asal-asalan terhadap para computer scientist tentang bagaimana cara mereka memandang wanita, dan beginilah hasil riset asal-asalan tersebut:



1. Tipe CPU:
Pintar, pemikir, tidak banyak bicara tapi mengerjakan banyak hal, (diam- diam tau-tau sudah 7… bulan).

2. Tipe Monitor:

Genit, senangnya diperhatikan, suka pamer, (padahal belum tentu yang dipamerin bagus).

3. Tipe Keyboard:

Senang dipegang, ditekan dan dipencet di berbagai lokasi (awas, salah tekan bisa hang )

4. Tipe Printer:

Aktif, ditekan sedikit geraknya banyak, kalau sedang dipakai berisik, (nggak cocok di rumah type 21 atau’ RSS, mengganggu tetangga).

5. Tipe Mouse:

Pas dan enak digenggam, dingin-dingin empuk!.

6. Tipe Windows:

Tampak luar bagus, dalamnya penuh bugs.

7. Tipe Linux-Console:

Tampak luar jelek, dalamnya ‘handal.’

8. Tipe XWindow:

Luar dalam bisa dihandalkan.

9. Tipe DOS:

Wajah tidak cantik, belum tentu hatinya baik!

10. Tipe UNIX:

Diam-diam, multi user.

11. Tipe PLC:

Badan besar dan kekar, Mampu bekerja di tempat kotor, 24 jam sehari, 365 hari setahun nonstop selama 30 tahun.

12. Tipe Windows NT:

Multi user, previlleges bisa costumized.

13. Tipe Windows Vista:

Selalu up to date, exclusive, nggak sembarangan terima pria, apalagi bajakan…

14. Tipe Windows 7:

Mirip dengan Windows Vista namun flexible, menerima laki-laki atau perempuan… yang penting kasih sayang…
Manakah yang termasuk sebagai diri anda ??

Sumber:http://www.beritaunik.net/berita-lucu/tipe-wanita-berdasarkan-teknologi.html

Wednesday, August 13, 2014

Tuesday, August 12, 2014

Diana Halik Dituduh Tengking Peminat Suami


Diana Halik Dituduh Tengking Peminat Suami
Diana Halik Dituduh Tengking Peminat Suami - KUALA LUMPUR : Isteri kepada pelakon dan pengacara terkenal Aaron Aziz, Diyana Halik menafikan dirinya sebagai pembantu peribadi (PA) kepada suaminya sendiri yang terlibat dalam kes menengking peminat-peminat Aaron.
Sebaliknya, Diyana mengakui dia adalah pengurus kepada suaminya sendiri yang menguruskan jadual kerjaya Aaron.
Baru-baru ini timbul cerita mengatakan PA kepada jejaka kacak itu telah menengking peminat-peminat Aaron dan PA yang dimaksudkan adalah Diyana sendiri.
Namun, Diyana menafikan cerita itu dan mendakwa telah berlaku salah faham dan penambahan dalam kisah tersebut.
“Terus-terang, saya bukan PA Aaron tapi pengurus dia. Pada kebiasaan, PA akan bertukar-tukar mengikut majlis yang dihadiri Aaron.
“Sejujurnya, pihak Primadona dah banyak kali hubungi kami untuk hadir disebabkan kami sudah terlewat. Oleh kerana itu, sebelum majlis ABP habis, kami terus bergegas ke studio dengan keadaan tergopoh-gopoh.
“Dalam kami bergegas, ada sekumpulan peminat menahan kami untuk mengambil gambar. Waktu itu jugalah PA Aaron berkata sesuatu kepada peminat itu. Setahu saya, PA dia tidak pun menengking peminat itu tetapi hanya berkata dalam nada tegas saja,” kata Diyana yang dipetik dari laporan Murai.com.
Bukan itu sahaja, terdapat juga pihak memburukkan peribadi Aaron apabila dikatakan hanya berdiam diri ketika melihat peminat-peminatnya ‘ditengking’.
Diana berkata, perkara itu juga tidak benar kerana Aaron tetap melayan peminat-peminatnya walaupun sedang mengejar masa.
“Walaupun kami sudah betul-betul terlambat, Aaron tetap melayan peminat untuk bergambar bersama. Malah, Aaron siap bertanya ada lagi tak peminat yang belum bergambar ketika itu.
“Saya betul-betul tak faham kenapa Aaron pula dituduh hanya berdiam diri saja. Padahal dia dah menurut permintaan untuk gambar. Saya agak kesal orang masih cakap Aaron sebegitu,” katanya.
Walaupun sudah banyak cerita negatif mengaitkan dirinya sepanjang menguruskan kerjaya seni suami sendiri, Diyana tidak mahu ambil pusing tentang cerita yang memburukkan dirinya.
Bagi Diyana, dia lebih mengetahui apa yang dirinya dan Aaron lakukan. – MynewsHub