Friday, September 5, 2014

Lowongan Waiters Inul Vizta Metro Lampung

KarirLampung.com - Lowongan Waiters Inul Vizta Metro, Lampung - Inul Vizta menjadi satu-satunya karaoke keluarga yang pertama kali dalam sejarah Superbrands Indonesia, yang berhasil mendapatkan penghargaan Superbrands 2013-2014 untuk kategori Entertainment.
Membuka Outlet Di Mtero Lampung, Di Jalan Jend. Sudirman, No. 64 Metro Lampung.

Waiters
Job Desc: Pelayan dalam menerima tamu, dan mengantarkan pesanan

Persyaratan:
1. Wanita
2. Usia Maksimal 23 Tahun
3. Lulusan SMA/SMK/D1 PERHOTELAN/ SEDERAJAT
4. Berpengalaman dalam bidang jasa dan pelayanan
5. Berdedikasi dan Disiplin tinggi terhadap perkerjaan
6. Mampu berkerjasama dalam Tim maupun Individual
7. Berpenampilan Merarik
8. Bersedia berkerja Shift

Lamaran Antar langsung ke Inul Vizta Metro Lampung
Jalan Jend. Sudirman, No. 64 Metro Lampung 34111
Rspv : (0725) 7852 111

Sumber informasi: HRD INul Vizta, via submit form KarirLampung.com, tanggal 3 Maret 2014

Jangan lupa, follow kami di Twitter @KarirLampung dan Facebook KarirLampungDotCom. Semoga informasi Lowongan Kerja Lampung Terbaru di KarirLampung.com yang kami sajikan ini bermanfaat dan bisa membantu mengurangi jumlah pengangguran di Lampung.

Thursday, September 4, 2014

Suplai logistik untuk tukang

"You are always a student, never a master. You have to keep moving forward"
-Conrad Hall-

Di suatu pagi, seorang teman berkunjung, biasa lah ngobrol sana sini :) Dari sharing kabar, kegiatan, kondisi kesibukan masing-masing hingga peluang-peluang.

Dari ceritanya, ada satu peluang yang kiranya cukup menarik menjadi alternatif usaha ekonomis. Kalau rekan-rekan punya kenalan, teman dekat, kerabat/famili yang berkecimpung di bidang teknik sipil, pemborong gedung, bangunan, jalan jembatan dll, coba manfaatkan kesempatan ini. Biasanya para pemborong/mandor membawahi para tukang. Para tukang/pekerja lapangan ini tidak sedikit ternyata juga merupakan kerabat sendiri dari si mandor, bisa pula temen/tetangga sekampung di desa, dsb. Oleh karenanya para tukang ini, umumnya nurut, manut, ngikut, loyal sama sang mandor (iya lah, bos nya, hehe). Pengerjaan proyek (gedung bangunan jalan jembatan dsb), seringkali memakan waktu tidak sebentar. Di kota2 besar biasa kita jumpai untuk para tukang dibuatkan rumah bedeng, temporer, sementara utk tinggal selama menyelesaikan proyek yang ditangani.

Nah peluang/kesempatannya adalah menawarkan kepada si mandor, si bos, pemborong untuk menjadi penyuplai logistik kebutuhan sehari-hari para tukang. Misal kebutuhan makan (3 kali dalam sehari), rokok, sabun mandi sabun cuci dll. Mereka para tukang secara terjadwal dikirimi nasi bungkus/nasi kardus untuk pagi, siang, malam. Tiap akhir pekan --misal-- tinggal potong gaji saja, total tagihan belanja para tukang (tercatat rapi administrasinya) dimintakan ke si mandor. Tentu imbal jasa bagi si mandor bisa jadi berupa fasilitas makan gratis khusus si mandor, atau sejenisnya.

Coba bayangkan kalau si mandor membawahi 30 orang tukang, mengerjakan gedung apartemen 20 lantai selama 4 bulan. Jatah makan tukang sehari 3 kali = 20 ribu/orang. Lumayan kan ? :D

Ya begitulah ringkasnya peluang yang bisa dimanfaatkan bila kesempatan seperti ini kita miliki. Coba saja, bila situasinya memang rekan2 jumpai yang cocok seperti gambaran di atas :)

Wednesday, September 3, 2014

Pengertian Tugas Fakultatif Tambahan

Pengertian Tugas Fakultatif (Tambahan) – Tugas Fakultatif (Tambahan) adalah/ Tugas Fakultatif (Tambahan) yaitu/ Tugas Fakultatif (Tambahan) merupakan/ yang dimaksud Tugas Fakultatif (Tambahan)/ arti Tugas Fakultatif (Tambahan)/ definisi Tugas Fakultatif (Tambahan).
Tugas Fakultatif (Tambahan) adalah

Tugas Fakultatif (Tambahan) adalah tugas yang bersifat tambahan atau pelengkap terhadap tugas essensial. Tugas ini diselenggarakan oleh Negara untuk dapat memperbesar kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam segala aspeknya, misalnya pemeliharaan fakir miskin, menyelenggarakan pendidikan, dan lain-lain.
Demikian informasi tentang Pengertian Tugas Fakultatif (Tambahan) semoga bisa berguna.

Monday, September 1, 2014

Inilah Bukti Bahwa Orang Tua Sering Membohongi Anaknya


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Itulah Kebohongan orang tua pada anaknya. Apa bukti bahwa mereka suka berbohong pada anaknya?


Cerita bermula ketika masih kecil, sebut saja si Andi, terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, sang Orang Tua sering memberikan porsi nasinya untuk Andi. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk Andi, Orang Tua berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG PERTAMA


Ketika Andi mulai tumbuh dewasa, Orang Tua yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, Orang Tua berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, Orang Tua memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu Andi memakan sup ikan itu, Orang Tua duduk disampingnya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang Andi makan. Andi melihat Orang Tua seperti itu, hatinya tersentuh juga, lalu menggunakan sendok dan memberikannya kepada Orang Tua’nya. Tetapi sang Orang Tua dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDUA


Sekarang Andi sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abangnya dan dia, Orang Tua pergi ke koperasi pembuatan kotak korek api untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel merk’nya, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, Andi bangun dari tempat tidurnya, melihat Orang Tua masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Andi berkata :”Ibu/bapak, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu/bapak masih harus kerja.” Orang Tua tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETIGA


Ketika ujian tiba, Orang Tua meminta cuti kerja supaya dapat menemani Andi pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Orang Tua yang tegar dan gigih menunggu Andi di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Orang Tua dengan segera menyambut Andi dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat Orang Tua yang dibanjiri peluh, Andi segera memberikan gelasnya untuk Orang Tuanya sambil menyuruhnya minum. Orang Tua berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEEMPAT


Setelah kepergian sang ayah tercinta karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai seorang ayah dan juga ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumah Andi pun membantu ibu baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan keluarga Andi yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibu Andi untuk menikah lagi. Tetapi Orang Tua yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KELIMA


Setelah Andi dan abangnya semua sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Abang Andi yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEENAM


Setelah lulus dari S1, Andi pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya Andi pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, Andi bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada Andi “Aku tidak terbiasa”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETUJUH


Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, Andi yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Andi melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap Andi dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibu Andi sehingga ibunya terlihat lemah dan kurus kering. Andi sambil menatap ibunya sambil berlinang air mata. Hatinya perih, sakit sekali melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” .KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDELAPAN.


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibu Andi tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kali.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sunday, August 31, 2014

11 Fakta Menarik Tentang Hujan


Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara tropis, ciri umum wilayah yang disebut tropis adalah memiliki curah hujan yang banyak. Dalam thread ini akan kita bahas tentang fenomena keunikan hujan dan fakta yang mungkin terlewatkan dari kita.

1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.
2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.
3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter.
4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm.
5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.
6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi.
7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505x1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”
8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik.
9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kul_kas.
10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan petrichor.

11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”.
Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi..
source: http://www.acehonline.net/showthread.php?t=6276

Friday, August 29, 2014

CIRI CIRI PENYAKIT USUS BUNTU DAN CARA MENGOBATINYA

Ciri-ciri Penyakit Usus Buntu dan Cara Mengobatinya - Usus buntu termasuk salah satu penyakit yang umum bagi masyarakat kita, penyakit ini juga termasuk salah satu penyakit yang berbahaya. jangankan usus buntu, orang yang sedang terserang flu saja banyak yang mengeluh, apalagi yang terserang penyakit ganas, betapa sakit dan khawatirnya mereka terhadap diri mereka sendiri. Kalau ditanya siapa yang mau sakit? Pasti tidak ada yang menjawab. Ya, semua orang menginginkan sehat, dan jika Anda semua ingin tetap terjaga sehat tubuhnya, maka aturlah pola makan anda, pola hidup anda, gaya hidup anda, jangan lupa beristirahat. Artikel ini akan membahas salah satu penyakit, yaitu usus buntu. berikut penjelasannya.
Penyakit usus buntu terjadi karena adanya peradangan pada usus buntu dimana usus kecil yang membentuk jari melekat pada usus besar disebelah kanan rongga perut. Penyakit radang usus buntu ini umumnya  disebabkan oleh infeksi bakteri namun faktor pencetusnya beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum diketahui secara pasti.

Ciri-ciri Usus Buntu

  1. Demam dan menggigil
    Ini dapat di identifikasi jika deman lebih dari 39 derajat celcius disertai sakit pada bagian perut yang parah sehingga membuat seseorang menjadi sulit berdiri, kemungkinan besar gejala ini merupakan salahsatu gejala usus buntu.
  2. Nyeri pada pusar
    Pada umumnya sakit yang dirasakan oleh seorang yang menderita usus buntu adalah penderita akan merasakan sakit pada daerah sisi kanan bagain bawah perut. Namun pada pertamanya rasa tidak nyaman ada didekat pusar dan baru kemudian rasa sakit tersebut akan berpindah pada bagian kanan bawah. Namun rasa sakit ini jika dirasakan oleh anak ataupun ibu hamil seperti terasa pada berbagai bagian perut, dan setelah itu rasa sakit ini akan semakin memburuk ketika seseorang akan memindahkan kaki, bersin, tersentak, ataupun batuk.
  3. Rasa sakit yang semakin memburuk 
  4. Hilangnya nafsu makan, merasa mual, dan juga muntah
    Ketika seseorang menderita penyakit ini biasanya nafsu makan akan semakin rendah dalam beberapa hari dan dibarengi dengan mual dan juga muntah ringan. Namun jika dalam 2-3 hari gejala berkurangnya nafsu makan sudah membaik maka kemungkinan besar bukanlah usus buntu. Namun jika gejalanya semakin memburuk dan disertai rasa sakit pada bagian perut kanan bawah segera bawa kedokter untuk dilakukan tindakan selanjutnya.
  5. Semebelit atau diare
    Setelah seseorang terkena sakit perut umumnya akan merasakan sembelit atau diare, Jika ternyata diare diare disertai dengan banyak lendir, dan juga rasa sakit pada bagian perut kanan bawah maka segeralah periksakan kesehatan Anda ke dokter.
  6. Perut kembung dan sulit buang gas
    Gejala lainnya yang mungkin saja terjadi pada penderita usus buntu adalah perut merasa kembung dan terasa penuh dengan gas namun engalami kesulitan ketika akan membuang gas, disertai nyeri usus. Hal ini perlu diwaspadai sebagai salahsatu gejala yang timbul dari penyakit ini.
  7. Rasa sakit jika pada bagian kanan bawah perut setelah ditekan
    Menurut dokter Payne ketika penderita menekan pada bagian bawah perut dan kemudian merasakan sakit saat melepaskan tekanan, sebaiknya langsung saja memerikasakan diri ke dokter karena ini mengindikasikan adanya gejala radang usus buntu. Terlebih jika gejala seperti ini disertai dengan banyak gejala lainnya.

Penyebab Usus Buntu

  • Adanya penumpukan fases atau tinja dalam usus
  • Kurang asupan serat pada lambung
  • Usus terinfeksi virus atau bakteri
  • Adanya penyumbatan pada usus
  • Adanya pembesaran pada jaringan limfoid

Dampak Akibat Usus Buntu Pecah

  • Masuknya kuman usus ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang bisa berakibat fatal.
  • Terbentuknya abses.
  • Pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan.
  • Masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa berakibat fatal.

Cara Mengobati Usus Buntu Secara Tradisional

  1. Delima
    Bahan-Bahan : 15 gram kulit delima kering, 30 gram daun jambu segar, 500 cc air.
    Cara Pemakaian : 15 gram kulit delima kering ditambah 30 gram daun jambu segar direbus dengan 500 cc air, tunggu hingga mendidih dan air hanya tersisa 200 cc, kemudian airnya disaring lalu diminum 3 kali sehari.
  2. Ajeran
    Bahan-Bahan : 5 gram herba ajeran, 120 mL air.
    Cara Pemakaian : Semua bahan dibuat menjadi infus atau pil, lalu diminum 2 kali sehari pagi dan sore, tiap kali minum 100 ml, atau 3 kali sehari, masing-masing 3 pil, ulangi selama 20 hari.

Thursday, August 28, 2014

2 Tips Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog


2 Cara/ Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog.

Hmmmm, setelah mem-posting sebuah artikel
CARA MEMASANG ICON/ WIDGET RECENT POSTS NAIK TURUN DENGAN MUDAH DAN KEREN,
Kini ku mau share mengenai tips dan trik mengatasi error ketika me-replay suatu komentar, saya posting ini karena sudah pernah merasakannya, sob. heee rasanya sebel banget.
Selamat pagi sob, pasti sobat lagi mencari solusi Mengatasi error replay komentar, yakan?
Sebel rasanya ketika me-replay suatu komentar dan tombol replay-nya error.
mysite setelah mengalami hal tersebut dan mendapat solusinya ingin rasanya shere kepada sobat semua
ada 2 Cara/Trik Mudah Mengatasi Error Replay komentar blog, sob 
kalau cara yang pertama tidak mempan cara kedua pasti mempan.
Silahkan sobat perhatikan dengan baik

Cara/trik yang pertama:
1. Masuk ke Dasbor ---> Rancangan ---> Edit HTML
2. Menjaga kegagalan, backup dulu template anda ---> Download Template Lengkap
3. Centang Expand Template Widget
4. Cari kode dibawah ini : 

<b:includable id=threaded_comment_js var=post>
  <script defer=defer expr:src=data:post.commentSrc type=text/javascript/>

  <script type=text/javascript>
    (function() {
      var items = <data:post.commentJso/>;
      var msgs = <data:post.commentMsgs/>;
      var postId = &#39;<data:post.id/>&#39;;
      var feed = &#39;<data:post.commentFeed/>&#39;;
      var authorName = &#39;<data:post.author/>&#39;;
      var authorUrl = &#39;<data:post.authorUrl/>&#39;;
      var blogId = &#39;<data:top.id/>&#39;;
      var baseUri = &#39;<data:post.commentBase/>&#39;;

// <![CDATA[
      feed += ?alt=json&v=2&orderby=published&reverse=false&max-results=50;
      var cursor = null;
      if (items && items.length > 0) {
        cursor = parseInt(items[items.length - 1].timestamp) + 1;
      }

      var bodyFromEntry = function(entry) {
        if (entry.gd$extendedProperty) {
          for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
            if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.contentRemoved) {
              return <span class="deleted-comment"> + entry.content.$t + </span>;
            }
          }
        }
        return entry.content.$t;
      }

      var parse = function(data) {
        cursor = null;
        var comments = [];
        if (data && data.feed && data.feed.entry) {
          for (var i = 0, entry; entry = data.feed.entry[i]; i++) {
            var comment = {};
            // comment ID, parsed out of the original id format
            var id = /blog-(d+).post-(d+)/.exec(entry.id.$t);
            comment.id = id ? id[2] : null;
            comment.body = bodyFromEntry(entry);
            comment.timestamp = Date.parse(entry.published.$t) + ;
            if (entry.author && entry.author.constructor === Array) {
              var auth = entry.author[0];
              if (auth) {
                comment.author = {
                  name: (auth.name ? auth.name.$t : undefined),
                  profileUrl: (auth.uri ? auth.uri.$t : undefined),
                  avatarUrl: (auth.gd$image ? auth.gd$image.src : undefined)
                };
              }
            }
            if (entry.link) {
              if (entry.link[2]) {
                comment.link = comment.permalink = entry.link[2].href;
              }
              if (entry.link[3]) {
                var pid = /.*comments/default/(d+)?.*/.exec(entry.link[3].href);
                if (pid && pid[1]) {
                  comment.parentId = pid[1];
                }
              }
            }
            comment.deleteclass = item-control blog-admin;
            if (entry.gd$extendedProperty) {
              for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
                console.log(entry.gd$extendedProperty[k].name + - + entry.gd$extendedProperty[k].value);
                if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.itemClass) {
                  comment.deleteclass += + entry.gd$extendedProperty[k].value;
                }
              }
            }
            comments.push(comment);
          }
        }
        return comments;
      };

      var paginator = function(callback) {
        if (hasMore()) {
          var url = feed;
          if (cursor) {
            url += &published-min= + new Date(cursor).toISOString();
          }
          window.bloggercomments = function(data) {
            var parsed = parse(data);
            cursor = parsed.length < 50 ? null
                : parseInt(parsed[parsed.length - 1].timestamp) + 1
            callback(parsed);
            window.bloggercomments = null;
          }
          url += &callback=bloggercomments;
          var script = document.createElement(script);
          script.type = text/javascript;
          script.src = url;
          document.getElementsByTagName(head)[0].appendChild(script);
        }
      };
      var hasMore = function() {
        return !!cursor;
      };
      var getMeta = function(key, comment) {
        if (iswriter == key) {
          var matches = !!comment.author
              && comment.author.name == authorName
              && comment.author.profileUrl == authorUrl;
          return matches ? true : ;
        } else if (deletelink == key) {
          return baseUri + /delete-comment.g?blogID= + blogId + &postID= + comment.id;
        } else if (deleteclass == key) {
          return comment.deleteclass;
        }
        return ;
      };

      var replybox = null;
      var replyUrlParts = null;
      var replyParent = undefined;

      var onReply = function(commentId, domId) {
        if (replybox == null) {
          // lazily cache replybox, and adjust to suit this style:
          replybox = document.getElementById(comment-editor);
          if (replybox != null) {
            replybox.height = 250px;
            replybox.style.display = block;
            replyUrlParts = replybox.src.split(#);
          }
        }
        if (replybox && (commentId !== replyParent)) {
          document.getElementById(domId).insertBefore(replybox, null);
          replybox.src = replyUrlParts[0]
              + (commentId ? &parentID= + commentId : )
              + # + replyUrlParts[1];
          replyParent = commentId;
        }
      };

      var tok = comment-form_;
      var hash = window.location.hash || ;
      var startThread = hash.indexOf(tok) == 1 ? hash.substring(tok.length + 1) : undefined;

      // Configure commenting API:
      var configJso = {
        maxDepth: 2
      };
      var provider = {
        id: postId,
        data: items,
        loadNext: paginator,
        hasMore: hasMore,
        getMeta: getMeta,
        onReply: onReply,
        rendered: true,
        initReplyThread: startThread,
        config: configJso,
        messages: msgs
      };

      var render = function() {
        if (window.goog && window.goog.comments) {
          var holder = document.getElementById(comment-holder);
          window.goog.comments.render(holder, provider);
        }
      };

      // render now, or queue to render when library loads:
      if (window.goog && window.goog.comments) {
        render();
      } else {
        window.goog = window.goog || {};
        window.goog.comments = window.goog.comments || {};
        window.goog.comments.loadQueue = window.goog.comments.loadQueue || [];
        window.goog.comments.loadQueue.push(render);
      }
    })();
// ]]>
  </script>
</b:includable>
5. Ganti semuanya dengan kode dibawah ini :

<b:includable id=threaded_comment_js var=post>
  <script async=async expr:src=data:post.commentSrc type=text/javascript/>

  <script type=text/javascript>
    (function() {
      var items = <data:post.commentJso/>;
      var msgs = <data:post.commentMsgs/>;
      var config = <data:post.commentConfig/>;

// <![CDATA[
      var cursor = null;
      if (items && items.length > 0) {
        cursor = parseInt(items[items.length - 1].timestamp) + 1;
      }

      var bodyFromEntry = function(entry) {
        if (entry.gd$extendedProperty) {
          for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
            if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.contentRemoved) {
              return <span class="deleted-comment"> + entry.content.$t + </span>;
            }
          }
        }
        return entry.content.$t;
      }

      var parse = function(data) {
        cursor = null;
        var comments = [];
        if (data && data.feed && data.feed.entry) {
          for (var i = 0, entry; entry = data.feed.entry[i]; i++) {
            var comment = {};
            // comment ID, parsed out of the original id format
            var id = /blog-(d+).post-(d+)/.exec(entry.id.$t);
            comment.id = id ? id[2] : null;
            comment.body = bodyFromEntry(entry);
            comment.timestamp = Date.parse(entry.published.$t) + ;
            if (entry.author && entry.author.constructor === Array) {
              var auth = entry.author[0];
              if (auth) {
                comment.author = {
                  name: (auth.name ? auth.name.$t : undefined),
                  profileUrl: (auth.uri ? auth.uri.$t : undefined),
                  avatarUrl: (auth.gd$image ? auth.gd$image.src : undefined)
                };
              }
            }
            if (entry.link) {
              if (entry.link[2]) {
                comment.link = comment.permalink = entry.link[2].href;
              }
              if (entry.link[3]) {
                var pid = /.*comments/default/(d+)?.*/.exec(entry.link[3].href);
                if (pid && pid[1]) {
                  comment.parentId = pid[1];
                }
              }
            }
            comment.deleteclass = item-control blog-admin;
            if (entry.gd$extendedProperty) {
              for (var k in entry.gd$extendedProperty) {
                if (entry.gd$extendedProperty[k].name == blogger.itemClass) {
                  comment.deleteclass += + entry.gd$extendedProperty[k].value;
                }
              }
            }
            comments.push(comment);
          }
        }
        return comments;
      };

      var paginator = function(callback) {
        if (hasMore()) {
          var url = config.feed + ?alt=json&v=2&orderby=published&reverse=false&max-results=50;
          if (cursor) {
            url += &published-min= + new Date(cursor).toISOString();
          }
          window.bloggercomments = function(data) {
            var parsed = parse(data);
            cursor = parsed.length < 50 ? null
                : parseInt(parsed[parsed.length - 1].timestamp) + 1
            callback(parsed);
            window.bloggercomments = null;
          }
          url += &callback=bloggercomments;
          var script = document.createElement(script);
          script.type = text/javascript;
          script.src = url;
          document.getElementsByTagName(head)[0].appendChild(script);
        }
      };
      var hasMore = function() {
        return !!cursor;
      };
      var getMeta = function(key, comment) {
        if (iswriter == key) {
          var matches = !!comment.author
              && comment.author.name == config.authorName
              && comment.author.profileUrl == config.authorUrl;
          return matches ? true : ;
        } else if (deletelink == key) {
          return config.baseUri + /delete-comment.g?blogID=
               + config.blogId + &postID= + comment.id;
        } else if (deleteclass == key) {
          return comment.deleteclass;
        }
        return ;
      };

      var replybox = null;
      var replyUrlParts = null;
      var replyParent = undefined;

      var onReply = function(commentId, domId) {
        if (replybox == null) {
          // lazily cache replybox, and adjust to suit this style:
          replybox = document.getElementById(comment-editor);
          if (replybox != null) {
            replybox.height = 250px;
            replybox.style.display = block;
            replyUrlParts = replybox.src.split(#);
          }
        }
        if (replybox && (commentId !== replyParent)) {
          document.getElementById(domId).insertBefore(replybox, null);
          replybox.src = replyUrlParts[0]
              + (commentId ? &parentID= + commentId : )
              + # + replyUrlParts[1];
          replyParent = commentId;
        }
      };

      var hash = (window.location.hash || #).substring(1);
      var startThread, targetComment;
      if (/^comment-form_/.test(hash)) {
        startThread = hash.substring(comment-form_.length);
      } else if (/^c[0-9]+$/.test(hash)) {
        targetComment = hash.substring(1);
      }

      // Configure commenting API:
      var configJso = {
        maxDepth: config.maxThreadDepth
      };
      var provider = {
        id: config.postId,
        data: items,
        loadNext: paginator,
        hasMore: hasMore,
        getMeta: getMeta,
        onReply: onReply,
        rendered: true,
        initComment: targetComment,
        initReplyThread: startThread,
        config: configJso,
        messages: msgs
      };

      var render = function() {
        if (window.goog && window.goog.comments) {
          var holder = document.getElementById(comment-holder);
          window.goog.comments.render(holder, provider);
        }
      };

      // render now, or queue to render when library loads:
      if (window.goog && window.goog.comments) {
        render();
      } else {
        window.goog = window.goog || {};
        window.goog.comments = window.goog.comments || {};
        window.goog.comments.loadQueue = window.goog.comments.loadQueue || [];
        window.goog.comments.loadQueue.push(render);
      }
    })();
// ]]>
  </script>
</b:includable>
6. Save Template 

Bila Belum Mempan cara/trik yang pertama silahkan sobat coba cara/ trik yang ke dua dibawah ini :

1. Login ke Akun Blogger sobat.
2. Pilih menu Template.
3. Klik Edit HTML.
4. Centang Expand Template Widget.
5. Cari kode seperti ini <b:include data=post name=post/> dan kalau tidak salah bentuk keseluruhannya seperti kode dibawah ini :

<b:include data=post name=post/>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
 <b:if cond=data:post.allowComments>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>

ATAU SEPERTI INI

<b:include data=post name=post/>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;>
   <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
   <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>

6. Silahkan sobat ganti deretan warna biru dengan kode dibawah ini :

<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;static_page&quot;>
 <b:if cond=data:post.showThreadedComments>
  <b:include data=post name=threaded_comments/>
 <b:else/>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>
<b:if cond=data:blog.pageType == &quot;item&quot;>
 <b:if cond=data:post.showThreadedComments>
  <b:include data=post name=threaded_comments/>
 <b:else/>
  <b:include data=post name=comments/>
 </b:if>
</b:if>

7. Save atau Simpan template sobat.

Terimakasih kunjungannya sob dan semoga berhasil.